Suasana Masjid Baiturrahman Taman Kebalen Bekasi, Sabtu, 22 Agustus 2026, kemarin pagi terasa hidup, hangat, serta diwarnai senyum dan tawa.
Bukan hanya karena silaturahmi antaranggota majelis taklim, tapi karena jemaah yang hadir mendadak diajak “ngaca bareng” lewat sharing session bertajuk Mengenali Energi di Keluarga: Agar Bisa Tumbuh Bersama, Meskipun Berbeda.
Obrolan pagi itu dibuka dengan santai namun langsung menohok hati para ibu oleh pemateri kita, Yuk Feby.
Yuk Feby berbagi Konsep Polah Alam dengan 4 Mode Energi: Kilat, Mentari, Salju, dan Awan
Di awal sesi, beliau langsung melempar pertanyaan reflektif yang membuat sebagian jamaah merasa relate: “Siapa di sini yang pernah merasa gemes sendiri karena kita yang biasa serbaterstruktur harus satu rumah dengan suami yang sukanya mengalir seperti air?”
Yuk Feby melanjutkan bahwa perbedaan kecenderungan alami ini tentu saja mewarnai keseharian rumah tangga.
Sebagai contoh, rencana liburan akhir minggu sudah disiapkan sang istri jauh-jauh hari. Ketika hari-H tiba, sang istri pun sudah bersiap sejak subuh.
Melihat istrinya sudah siap-siap, sang suami malah bertanya dengan polosnya, “Mah, kita jadinya ke mana ya hari ini?”
Belum lagi saat berdiri di depan lemari pakaian, ia kembali menoleh dan bertanya, “Mah, saya pakai baju apa?”
Mendengar gambaran situasi tersebut, seisi ruangan melepas tawa. Sebagian jemaah bahkan tampak tersenum penuh arti, seakan-akan sedang mendengarkan cuplikan drama rumah tangga mereka sendiri.
Dari sinilah rahasia komunikasi keluarga mulai dibedah melalui kerangka Polah Alam, yang membagi energi manusia ke dalam empat mode: Kilat, Mentari, Salju, dan Awan.
Kenal Lebih Dekat dengan 4 Mode Energi Polah Alam
Menariknya, meskipun materi ini terbilang baru bagi hampir semua jemaah, suasana di dalam masjid justru sangat interaktif.
Hanya dalam satu sesi saja, para ibu tampak langsung familiar dan cepat menangkap karakteristik dari keempat mode energi tersebut.
Hal ini membuktikan bahwa konsep Polah Alam mudah dicerna, sekaligus menunjukkan keseriusan dan antusiasme para anggota majelis taklim dalam proses belajar memperbaiki diri.
Antusiasme Jemaah Muslimah Masjid Baiturrahman Dalam Sharing Session
Salah satu pemahaman konsep Polah Alam yang dibawakan Yuk Feby: mode energi ini bukanlah label mati, melainkan instrumen yang bisa kita akses secara fleksibel.
Kita bisa melakukan switching (pergantian) mode energi sewaktu-waktu saat menghadapi situasi tertentu di rumah.
Sebagai contoh, ketika seorang ibu yang memiliki Mode Mentari dihadapkan pada anak yang rewel, respons refleksinya biasanya ingin cepat-cepat mendamaikan suasana secara instan.
Misalnya dengan mudah berjanji, “Iya nanti sore kita jalan-jalan ya”. Tujuannya agar si anak senyum lagi detik itu juga.
Padahal, karena kecenderungannya yang mudah lupa, janji itu sering terlewat begitu saja.
Jika dibiarkan, anak bukan cuma kehilangan kepercayaan pada ibunya, tapi yang lebih berbahaya, ia juga meniru pola tersebut hingga tumbuh menjadi pribadi yang gampang obral janji tanpa rasa tanggung jawab.
Lalu, bagaimana solusinya? Di sinilah kehebatan switching mode diajarkan.
Saat menyadari diri sedang berada di mode Mentari yang spontan dan rawan obral janji, matikan tombol Mentari-nya sebentar, lalu akses mode Salju.
Karena mode Salju karakternya sangat berhati-hati dan disiplin menepati kata-kata, seorang ibu jadi bisa mengerem diri untuk tidak sembarangan berjanji jika belum tentu bisa ditepati.
Setelah situasi terkendali, barulah kembali ke mode Mentari yang ceria dan penuh kehangatan!
Ilmu Praktis yang Langsung Bisa Dipakai di Rumah
Antusiasme jemaah yang hadir kemarin sangat terasa. Banyak yang merasa "tertampar" sekaligus mendapat pencerahan baru untuk langsung dipraktikkan dalam keseharian mereka bersama pasangan dan anak.
Ketua Muslimah Masjid Baiturrahman, Ibu Arni, menyampaikan kesannya usai mengikuti acara tersebut:
"Materinya sangat bagus, membuka wawasan kita tentang Polah Alam. Kita jadi tahu mode energi alami kita, sehingga bisa memaksimalkan sisi positifnya. Dengan ilmu ini juga kita jadi tahu apa yang perlu dilatih dari diri kita sehingga lebih berperan dalam menciptakan keharmonisan keluarga.”
Perwakilan jemaah yang lain dengan antusias berujar,
“Alhamdulillah, materinya daging banget! Bener-bener ngerasa di-spill kelakuan sendiri di rumah. Pulang dari sini jadi punya panduan jelas bagaimana cara melatih diri dan menyelaraskan energi buat ngadepin anak sama suami.”
Dalam sesi kemarin, Yuk Feby juga sempat membedah sekilas langkah praktis lewat metode REKAP (Refleksi, Empati, Kompromi, Adaptasi, Progres) sebagai panduan harian para ibu di rumah.
Mudah-mudahan ilmu yang dibagikan kemarin membawa berkah, semakin mempererat keharmonisan keluarga, dan bermanfaat luas bagi seluruh jemaah Muslimah Masjid Baiturrahman.
Komentar (1)
Ma syaa Allah, berkah ilmunya ya yuk feby..